Monday, March 25, 2013

Gunung Merapi (2.968 mdpl) #4 : Puncak yang Terselimuti Kabut

Gunung Merapi
Gunung Merapi
23 Maret 2013, masih penasaran dengan kondisiku pasca sakit (dan tepar, can't go anywhere.. sedih banget) aku pun berniat untuk kembali jalan-jalan di Gunung Merapi dengan puncaknya Puncak Garuda di ketinggian 2.968 mdpl. Pasca erupsi tahun 2010 lalu, jalur yang hanya diperbolehkan untuk dilalui hanya Jalur New Selo yang terletak di Plalangan, Boyolali. Gunung Merapi yang menjadi salah satu gunung berapi teraktif di dunia memang masih menyisakan bahaya pasca letusan terakhirnya. #Detail tentang Gunung Merapi cari di postingan yang dulu aja ya?? Hehehe..

Peta Jalur Pendakian Merapi
Berangkat dari kos yang ku sebut Kandang Macan, sekitar pukul 7 malam. Kami berangkat dari Yogyakarta dengan anggota 5 personil. Aku sendiri, Teguh #IkanTengierie Berbuluanjinkkintamani, Isha Emostha, Buyung dan Imam (kalo nggak salah ^_^). Aku hanya menggendong daypack karena barang yang dibawa tak banyak, bahkan satu daypack itu cukup untuk keperluanku dan cowokku tentunya. Isi dari daypackku sendiri hanya slepping bag, cemilan (Togo doank.,haha), 2 mie instan, air 2 botol kecil, headlamp dan dome (ngirit,tanggal tua,hahaha).

BARA MERU MERAPI
Basecamp Bara Meru Merapi
Rombongan kami tiba di Basecamp Barameru sekitar jam 9 malam. Basecamp Barameru ini menyatu dengan rumah "Pak Min", bisa digunakan untuk menitip kendaraan, istirahat, bermalam, re-packing dan sebagainya. Di sini juga terdapat etalase yang menyediakan souvenir seperti stiker, gantungan kunci, kaos dan sebagainya. Sesampainya di basecamp kami hanya menemukan beberapa teman kami. Ternyata teman-teman kami yang merupakan anggota eMPe sedang mengisi perut mereka di New Selo. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusul mereka. Basecamp berjarak sekitar 300 meter dari New Selo. Canda dan tawa menemani kami menanjaki jalanan aspal menuju New Selo. Lumayan lah buat sekedar pemanasan ^_^ Desa New Selo ini adalah desa terakhir yang berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi. Untuk sampai di puncak dibutuhkan waktu sekitar 5 jam (santai).

Tak berapa lama sampailah kami di New Selo. Langsung deh aku pesan susu anget dan gorengan. Hahaha.  Disini kami bertemu dengan anggota eMPe diantaranya Priyo Supriyono, Shocker Mahendra, Ibond Hikers, Theo Rivera, Agus Blauk, Bayou Cavalera, Echy, Lek Ohm dan banyak lagi (nggak bisa disebutin satu2). Ada juga anggota Pandawa Lima UST Lexzo. Banyak cerita dan bahan obrolan yang menghangatkan suasana diantara kami. Malam tertutup awan mendung, tapi untunglah. Langit di atas Merapi lama kelamaan terlihat cerah. Dingin mulai menyeruak di antara kami, menyapa canda tawa kami malam itu.

Seperti biasa, untuk menaiki gunung ini kami berangkat secara tik-tok alias naik langsung turun lagi dan dimulai dari jam 12 malam. Dari New Selo ini, jalur adalah jalan setapak terjal yang tak ada bonus dalam beberapa jam berselang dengan pepohonan mengantarkan kami pada 4 jam perjalanan yang belum berujung. Setelah cabut dari New Selo, jalur ladang telah menghadang. Sekitar 1 minggu sebelumnya jalur ini dipenuhi dengan jalur air yang cukup dalam sampai lutut juga ada. Maklum, musim hujan. Namun sekarang beberapa dari jalur air ini telah tertutup oleh tanah sehingga tak begitu dalam.

Jalur ladang akhirnya selesai dengan ditandainya sebuah gapura baru yang bertuliskan "Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Merapi" yang berdiri diantara perbatasan ladang penduduk dan hutan. Sebelum tiba di gapura ini, ada seseorang di dalam sebuah dome yang menyapa kami. Langsung deh kami gerebek dome itu. Ternyata si Grandong dari Solo camp disitu, sama cewek entah siapa. Hahaha. Tak lama kami singgah disana, kami kembali melangkah melanjutkan perjalanan.

Beberapa waktu kemudian kami sampai di pertigaan kartini. Ke kiri adalah jalur Kartini, jalannya terlihat landai, sedangkan ke kanan adalah jalur utama, jalan terlihat menanjak dari percabangan. Aku memilih untuk mengambil jalur kanan, memang jalurnya agak menanjak, tapi bagiku ini lebih cepat sampai :D Napas terasa lebih sesak karena debu dan tipisnya oksigen malam hari di gunung.

Kira-kira jam setengah 2 kami tiba di Batu Belah Pos I. Lumayan cepat juga ^_^ dan akhirnya Pos I telah terlewati, karena menurutku bagian ini adalah bagian terberat dalam pendakian Merapi. Di sini kami beristirahat sekitar 15 menit, kemudian kembali melangkah meninggalkan Pos I. Di tengah jalur pendakian banyak para pendaki yang tidur di tengah jalan (ngawur banget sih mereka), sampai aku teriak "ini jalannya yang mana ya?" baru deh mereka menyingkir. Huehm.

Menaiki, melewati dan menuruni celah antara 2 batu, lalu melewati jalan sempit. Track selanjutnya berupa jalan berbatu dan sedikit menanjak, tapi tak securam track menuju Pos I. Setelah berjalan sekitar seratus meter, ada percabangan yang akan ditemui. Ke kiri merupakan jalur utama dengan track berbatu dan menanjak cukup curam karena merupakan jalur di punggungan bukit, sedangkan ke kanan jalan sedikit menanjak, lalu menurun dengan track tanah, ini merupakan jalur lumut. Kami lebih memilih jalur utama, karena bagi kami jalur lumut lebih enak di pakai untuk turun ^_^


Sekitar jam 2 aku, teguh dan Adji beristirhat sambil menunggu rombongan yang lain. Setelah beberapa saat keringat yang basah menjadi dingin dan menusuk tulangku, aku pun mengajak untuk kembali melanjutkan perjalanan. Sampai di Pos II skitar jam 3 kemudian kami mendirikan tenda untuk sekedar melindungi kami dari terpaan angin yang dingin. Dalam sekejap tenda telah berdiri berkat kerjasama tim solid kami ^_^ Anak-anak tidak langsung tidur melainkan masih membuat kopi untuk sekedar menghangatkan badan, sementara si Kaztolsikommo Ingin Dicintai langsung nyungsep deh ke dome'nya ^_^ Jam 4 anak-anak mulai memejamkan mata, begitu pula aku. Sayang, aku nggak bisa tidur. Huaaaaaaa....

Sunrise dari Merapi Pos 2
Sunrice Merapi
Sunrice...Sunrice!!! Suara Isha yang terlebih dulu bangun memaksaku untuk ke luar tenda. Di luar tenda sudah mulai terlihat terang, dengan semangat aku keluar tenda dan meneriakkan kata "Sunrice". Sunrice yang selalu memikat dengan goresan jingganya. Beberapa pendaki lain mengabadikan sunrice tersebut dengan gaya mereka sendiri-sendiri. Tak lupa juga kami melakukan ritual seperti biasa. Jepret jepret...

Setelah packing SB, kami mulai mulai pendakian ke puncak baru Merapi karena jam sudah menunjukkan pukul 7.30. Mungkin karena kami mantan model, jadinya kami betah untuk berlama-lama berpose ria. Hahahaha. Perjalanan pun dilanjutkan, sejenak aku berhenti untuk menikmati pemandangan dari tempat yang baru 4 kali aku singgahi ini.  

Di tengah perjalanan kami melihat serombongan pendaki yang membuang sampah sembarangan. Spontan salah satu dari kami memaki-maki mereka. Gunung bukanlah tempat sampah. Tak seharusnya mereka membuang sampah di tempat ini. Mungkin mereka korban film "5cm" sehingga seenaknya saja seperti itu. Untuk naik saja mereka sanggup untuk membawa beban, kenapa untuk turun yang hanya membawa bungkus makanannya saja mereka nggak sanggup? Sungguh miris sekali. Sebelum tiba di "In Memoriam" perutku sempat kram. Alamak apa lagi ini. Pelan-pelan aku tetap berjalan dan lama-lama rasa sakit itu hilang juga :D

Banyak pendaki yang sudah sampai puncak, terlihat titik-titik hitam yang bergerak di bibir kawah Merapi. Beberapa dome terlihat berdiri di camping site Pasar Bubrah yang gersang. Kami menuruni jalan, membelah Pasar Bubrah, berpijak pada batu-batu dan kerikil, kemudian sampai track pasir lereng puncak yang menanjak dan cukup curam. Kerikil-kerikil cukup bisa membuat tergelincir jika tak hati-hati. Lalu menyeberangi pasir menuju tebing karang batuan muda di sisi kiri. Di tebing ini pendakian lebih mudah dan aman karena pijakan lebih stabil dan tidak licin. Jalur mendekati puncak tetap curam dan terjal, namun asalkan hati-hati dan tidak sembrono, pendakian puncak akan tetap aman.

Di tengah perjalanan menuju puncak, aku bertemu dengan serombongan mas-mas yang turun. Karena aku nggak bawa air sedikit pun, akhirnya modus deh sama mas-mas. Hahaha. "Mas punya air ngga?? Minta boleh?", teriakku.Setelah cukup basa-basi, akhirnya dapet deh air minumnya. Lumayan lah, dan dengan penuh kemenangan aku meneriakkan "Hei anak-anak, aku dapet air. Hahaha".

Perjalananku kali ini membawaku pada banyak perenungan yang berkelebat silih berganti di kepalaku bersamaan dengan kakiku menjejak bebatuan dan pasir Merapi. Medan menuju puncak yang cukup berat, pasir yang tebal membuat langkah satu satu kembali merosot setiap dijejakkan. Bebatuan yang sangat labil yang setiap digenggam akan segera rontok, belum lagi jalur berdebu, pasir halus yang tebal membuat perjuangan habis-habisan untuk semakin dekat dengan puncak. Termotivasi oleh jarak pandang ke puncak yang sepertinya tak jauh lagi, namun tahu sendiri di gunung ketika melangkahkan kaki lima langkah saja sudah menguras tenaga sedemikian rupa, namun inilah kecintaanku pada perjalanan di gunung. Aku menikmatinya. 

setiap jalur yang mereka, aku, kamu pun lalui adalah sama,
pijakan yang kau pilih, adalah sepenuhnya hak dan tanggung jawabmu,
keseimbangan langkahmu adalah tugasmu untuk menjaganya,
ketika trekking pole harus ditancapkan dengan tepat untuk menjaga langkahmu,
semangat, ketekunan, keteguhan dan kesabaran menjadi kunci pencapaian kali ini.

Perjalanan dari pasar bubrah ke Puncak Merapi dapat ditempuh sekitar satu jam. Memang tak ada lagi sosok puncak Garuda yang tersohor itu. Letusan Merapi tahun 2010 telah mengubah bentukan puncak dari gunung Merapi. Kawasan puncak yang berupa igir sempit yang langsung berbatasan dengan kawah Merapi. Benar-benar memerlukan koordinasi yang kompak antara seluruh badan dan pikiran agar tak sampai tergelincir

Jalur tebing karang menuju puncak Merapi
Jalur tebing karang
Alhamdulilah, setelah berjuang melawan rasa lelah di kaki, melewati pasir, kerikil, batu, hingga tebing karang akhirnya kuinjakkan kakiku di dataran puncak Merapi. Ini pertama kalinya kugapai puncak Merapi dan takjub dengan cakrawala. Aku memilih ke bibir kawah sebelah kiri, ke arah celah erupsi 2010 lalu. Sebenarnya titik tertinggi gunung Merapi berada di sisi kanan, tapi aku tak mau ambil resiko karena batuan puncak masih belum stabil.

Narsis di Bibir Kawah Merapi
Narsis di Bibir Kawah Merapi
Acara puncak kami isi dengan berfoto-foto. Memang langit sedang tak begitu bersahabat, karena kabut sering lewat. Banyak juga pendaki yang juga baru sampai di puncak. Puncak memang tidak cukup untuk menampung banyak (sekali) orang. Karena puncak hanya berupa bibir kawah yang cukup tipis dan sempit. Jadi dari puncak bisa terlihat kawah beserta tebing dinding kawah yang masih mengepulkan asap belerang. Mendaki gunung berapi dan bisa melihat kawahnya secara langsung adalah sesuatu yang cukup menarik. 


Setelah cukup lama bersantai-santai di puncak, kami memutuskan untuk turun. Perjalanan turun lebih cepat tapi lebih mengerikan, karena melihat track yang curam dan licin. Kami turun melalui sisi kiri (barat), yang langsung mencapai ujung lereng pasir. Sementara bebatuan labil dan berdebu serta curam, membutuhkan ekstra kehati-hatian sepanjang jalur menyusuri jalur turun hingga bertemu jalur berpasir yang bersiap menyambut keberanian kita untuk "menunggangi" lapisan pasir longsornya. Yuhuuuuuu...dan aku menikmatinya! Jejakkan sandal, tancapan trekpole, hirupan nafas, semua bersinergi, membawaku larut menuruni lereng Merapi di atas medan berbatu dan disambut pasir halusnya yang meluncurkan aku. Setengah jam kemudian kami sampai di dataran Pasar Bubrah.

Hampir tengah hari kami tiba juga di Pasar Bubrah. Dalam terik mentari kami berlindung di dekat
batu besar untuk memasak mie instant.Kami semua sudahlapaaaaar. Hahahaha. Tak lama kami berasda di sini, karena perut yang sudah mulai berontak ^_^

Ritual dulu yuk...Jepret ^_^
Rencana tinggal rencana, mau berfoto-foto ria. Eee malah ada kabut yang dateng tanpa rasa bersalah. Hahaha.. Ya sudahlah, kami memutuskan untuk bergegas turun. Setelah meninggalkan Pasar Bubrah kami masih harus berjuang menuruni lereng berbatu hingga sampai pada jalur di punggungan yang bertipe batuan tua berhiaskan tanaman perdu-perduan seperti Cantigi dan sebagainya. Salah satu tipe jalur yang aku sukai, bebatuan, perdu dan semak warna warni cerah merah hijau serta kombinasi kondisi kekeringan di Merapi malah membuat jalur ini semakin memikatku. Kemuduan menuruni tebing karang, melewati Goa, Watu Gajah, tebing-tebing batu dan akhirnya sampai di pertemuan jalur lumut dengan jalur urama. Kami memutuskan untuk menuruni jalur lumutan, lebih nyaman dan teduh mengingat hari sudah siang.

Dengan sedikit berlari aku melewati jalan setapak di antara semak-semak. Cuaca masih agak berkabur saat turun. Akhirnya aku sampai juga di pertemuan jalur. Sebelum tiba di Pos I, Adji meneriakkan untuk break di Pos I. Di sini kami beristirahat hampir 1 jam. Cerita tentang buruknya pembuatan di balik film 5 cm lah, dan banyak lainnya ^_^ Akhirnya pukul 2 siang kami kembali melangkahkan kaki dan mengambil jalur kanan dan tak lama akhirnya sampai di batas Taman Nasional.

Di atas gapura aku terpeleset dan itu membuat kakiku sakit.Haduuuuuh. Dari gapura ini setelah berjalan beberapa meter kami mengambil jalur kiri. Bukan jalur pendaki memang, karena jalur ini adalah jalur yang biasa dilewati oleh penduduk setempat untuk naik turun mencari rumput. Kami kemudian mengikuti jalur menurun melewati sungai kering dan naik turun menuju punggungan utama. Lapar yang terasa makin menjadi membuat kami lebih semangat untuk sampai di New Selo. Saking laparnya Adji Rock sampai makan wortel, lobak dan selada yang ada di ladang. Eits, bukan mencuri lho. Dia cuma ngambil sisa-sisa panen ^_^

Track ladang masih tersisa sedikit, ingin rasanya berlari tapi keadaan kaki yang memaksaku untuk mengurungkan hal itu. Cukup sore juga kami sampai di New Selo. Maklumlah, karena kami gemar melakukan perjalanan dengan irama santai. Hehehe. Tak lupa kami langsung memesan minuman dan makanan. Nasi pecel jadi pilihanku untuk mengisi perut yang sudah mulai berontak. Hahaha. Banyak juga pengunjung New Selo hari ini, ada rombongan keluarga, tapi kebanyakan memang mereka yang ingin berduaan di keramaian. Setelah dirasa cukup, kami pun kembali ke Basecamp Barameru untuk packing dan kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang.

Dari sekian banyak gunung yang aku daki dengan langkah preventif sebaik mungkin, rupanya Merapi adalah gunung yang paling tidak ramah bagi wajahku, hahaa. Selepas menuruni lereng hingga sampai di basecamp New Selo, masker hanya sesekali aku lepas untuk membetulkan posisinya atau sekedar menukar sedikit udara segar.

Dari New Selo, kita bisa melihat pemandangan yang terdapat di sebelah bawah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang ada di sebelahnya. Bila beruntung, dari gardu pandang New Selo kita bisa melihat puncak Gunung Merbabu dari kejauhan. Cukup disayangkan, lokasi yang cukup indah ini kurang terawat. Minimnya fasilitas untuk pengunjung dan daya tarik wisata lain yang berupa gardu pandang dirasa sangat kurang untuk memuaskan wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata ini. Kita berharap New Selo menjadi obyek wisata andalan yang dinikmati wisatawan, tidak hanya sebagai pos pendakian Gunung Merapi semata.

Bercerita tentang banyak hal, Merapi telah memberiku waktu untuk sampai di puncaknya kali ini. Gunung-gunung itu tak pernah berhenti memikat hatiku, atau lebih karena aku kah yang telah mengikat hatiku padanya? Hmm….mungkin itu tak perlu aku cari tahu jawabnya…
Sebuah catatan perjalananku. Bukan bagaimana kita membuktikan kekuatan kita, melainkan untuk merasakan indahnya sebuah kebersamaan, yang tak akan kita temui di perkotaan kawan :D Untuk info contact, PM saja di FB (Zhi CiinounaDudulz Ghadyeztmandjha) atau Twitter (@ZhiCiinonaDudul) q, termasuk nomor kontak beberapa pemandu jika ingin menggunakan jasa guide yang bisa mengantar mencapai puncak Gunung Merapi.


Selamat Mendaki. Salam lestari.

2 comments:

Jangan lupa kasih koment ya kawan :D