Thursday, October 4, 2012

Gunung Ungaran (2.050 mdpl) >>Part Two<< : Menembus Kabut Gunung Ungaran di Jalur Medini

Gunung Ungaran 2.050 mdpl
Gunung Ungaran 2.050 mdpl
Di balik kegarangan Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, tersimpan keindahan panorama alam yang tidak kalah menarik dengan tempat-tempat wisata papan atas lain. Nikmatilah kebun teh, gemericik air terjun, dan jika Anda beruntung, kepakan sayap elang hitam. Tak banyak memang yang tahu tentang kebun teh Medini, kecuali masyarakat di sekitar Pegunungan Ungaran dan beberapa pendaki gunung.

Medini, Promasan, Boja dan Semarang, Jawa Tengah adalah nuansa keindahan alam ciptaan-Nya yang tersembunyi di balik kegarangan Gunung Ungaran. Suasana alami pedesaan yang ditingkahi celoteh pemetik daun teh serta keheningan alam yang terbalut oleh kabut tipis, akan membawa imajinasi kita ke alam yang lain daripada yang lain. Gemericik suara air terjun, dan kepakan sayap elang hitam serta aroma racikan teh alami menjadi suguhan utama di desa tersebut. Tentu, hal ini menambah keengganan kita untuk segera meninggalkannya.

Jalur alami tea walk, jungle tracking, ataupun jeep adventures menantang adrenalin kita. Di waktu malam, gelap pekatnya pegunungan dan hawa dingin yang menyergap adalah waktu yang sempurna untuk menyalakan api unggun. Naik gunung akhir pekan ini sepertinya bakal menarik, akhirnya saya putuskan untuk menggadaikan  semua jadwal akhir pekan kemudian menatap puncak, mengangkat dagu dan mengacungkan telunjuk ke Gunung ungaran, "Soon, soon I'll be there!!"


Teguh, Isha, Vidyan @Basecamp Satoejiwa
Pasukan dari Jogja berkumpul di basecamp gempitaloka dan akhirnya kami berangkat dari Yogyakarta menaiki sepeda motor dengan jumlah pasukan 7 orang (aq, Teguh, Vidyan, Adie, Isha, Orton Antras, Dicky). Rencana kami akan berkumpul di basecamp Ady Satoejiwa di Pingit. Sampai di basecamp hujan mengguyur dengan derasnya. Kami putuskan untuk menunggu hujan reda (tapi nggak reda-reda juga. Huft). Akhirnya beli jas hujan harga 3000an. Huahaha. Jadinya pasukan ijo-ijo. Dari basecamp Ady Satoejiwa pasukan kami bertambah Thytha Maehendra Charizmaticflameminho, Aguzt JaheAngedt PengendSusu, Julie Bright Aurora, Ambon Sarape Keno, Kaztolsikommo Ingin Dicintai, Ady dll (maaf yang lain nggak disebutin, lupa saking banyaknya. ^_^). Lama juga kami sampai di Basecamp Medini. Huhuhuhu.

Masak rame-rame. Hohohoho
Sesampainya di Medini anak-anak malah mendaftar untuk ikut acaranya Habitat. Retribusi 25rb coy, males banget. Nggak dapet makan cuma dapet souvenir mah males aq ikutan kayak gitu. hahaha. Akhirnya aku dan Teguh cuma nimbrung ajah disitu. Hihihihi. Kelompok dibagi menjadi 2 tempat camp, kelompok kecil kami mengisi malam dengan masak-masak untuk makan malam dengan koki Adie Restoe Bomie, IkanTengierie Berbuluanjinkkintamani, dan aq sendiri. Hahaha.

Jam 3 pagi, ketika embun jatuh membasahi dedaunan, udara dingin klimaks menusuk ke dalam sleeping bag, aku sudah dibangunkan Teguh untuk melanjutkan perjalanan. Untuk menghemat waktu kami lanjutkan pendakian memasuki hutan. Aroma embun dan dedaunan memberi semangat baru. Sangat disayangkan, pagi itu langit kelabu tertutup awan, kabut menutupi kota, cahaya matahari hanya sedikit yang menembus ke daratan.

Di sepanjang perjalanan mulut ini tak berhenti bergerak, maklumlah orang cerewet. hahaha. Ini pendakian pertama Isha 'Cukha' Maria Ozawa dan Dicky. Jadinya mereka kami kerjain. Hehehe. Jail yak?? : D Karena kami bertiga sudah terbiasa naik gunung kami berjalan cepat, saat dirasa mereka berdua ketinggalan jauh maka kami beristirahat. Pas mereka berdua menghampiri kami, kami langsung berdiri dan melanjutkan perjalanan. Huahahaha. Kasian sekali. Hihihihi. Setelah berjalan jauh, aku mencium bau-bau seperti mbah-mbah nginang gitu, merinding nih jadinya, Vidyan Purnama Putra pun mencium bau tersebut. Tepat di jalan yang mirip jalan yang aku laluin tadi dan mencium bau kinang, aku dan Isha juga mencium bau bunga kantil. Hiiii. Apa-apan ini??? Kami pun mempercepat langkah kami. Hehehe.

Jalur berbatu Gunung Ungaran
Jalur berbatu Gunung Ungaran

Tibalah kami di pertigaan kebun teh peromasan (sekitar 1800 mdpl). Dari sini jalan mulai menanjak. Jalur pendakian dari sisi Utara Gunung ungaran terhampar puluhan hektar kebun teh yang luas. Lebih keatas lagi saya temui lereng gunung yang gundul, pepohonan nampak terbakar. Padahal pada pendakian Gunung Ungaran belum lama ini belum terjadi kebakaran.

Setengah perjalanan atau sekitar 1 jam berjalan, kita akan menemui tebing-tebing batu yang berketinggian sejitar 20 meter dan dihiasi oleh padang sabana dengan pepohonan yang jarang. Daerah ini di siang hari sangat panas dan berangin kencang karena tidak adanya pohon-pohon pelindung yang tumbuh, kebanyakan hanya alang-alang yang dapat kita temui di sini hingga puncak.


Padang Sabana Gunung Ungaran
Padang Sabana Gunung Ungaran
Dengan kondisi jalur berbatu, saya harus pintar pintar mencari pijakan, kadang juga harus melompat untuk melewati bebatuan berukuran jumbo. “wunggggg wunggg” Menyeramkan sekali suaranya. Suara tersebut berasal dari daun pohon pinus yang bentuknya seperti bulu, dimana tiap kali tertiup angin suaranya semakin nyaring menyeramkan.

Kondisi pendakian berubah menjadi padang savana, ilalang dan rumput rumput bergoyang tertiup angin kencang, saya juga sempat ikut bergoyang terbawa terpaan angin, untung tidak nyemplung di jurang, hanya batu saja yang kokoh diam membisu tidak bisa move on #eh.

(Perlu diingat) Batu raksasa itu penipu!! Hahaha. Bagi kalian yang baru pertama kali kesini, tiap kali melihat batu raksasa pasti langsung terpikir, “puncak pasti ada di balik batu”, namun setelah mengitari batu dengan beringasnya, rasakanlah itu cuma tipuan dan mungkin kalian tertipu tiga kali oleh batu besar. Hihhihi.


Disarankan agar mendaki ke puncak saat malam atau pagi-pagi sekali, selain untuk menghemat air minum juga agar terhindar dari terik matahari yang dapat membakar kulit. jalur disini menuntut kewaspadaan yang tinggi karena kita melewati punggungan yang terjal berbatu besar serta licin. Kita menempuh jalan setapak yang megitari tebing-tebing.


Boyband @Puncak Gunung Ungaran. Hahahaha
Boyband @Puncak Gunung Ungaran. Hahahaha
Apabila anda sudah mencapai hutan kecil yang diapit oleh dua punggungan berarti puncak Gunung Ungaran sudah dekat. Di atas hutan kita dapat menemui tebing terjal, jalan setapak denan menyusuri bagian tengah tebing menuju arah kiri kemudian berbelok ke arah kanan. Senyum mengembang, gigi mengering tertiup angin, kaki menjadi ringan setelah melihat 3 pucuk Tugu, itulah pertanda bahwa akhir pendakian tinggal beberapa langkah lagi. Sebelah tenggara ada Gunung Merbabu dan Merapi, sebelah barat daya ada Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, ke arah utara ada komplek peromasan tepat dibawah, sedangkan posisi kota Semarang ada di timur laut.

Foto Keluarga ^_^
Foto Keluarga ^_^
Kami dipuncak Gunung Ungaran (2.050 mdpl) cukup lama juga. Berharap tirai kabut ini lenyap, tapi tu kabut ngak ilang-ilang. Haduuuu. Selama beberapa menit kami rasa  mengabadikan moment narsis dalam frame foto bersama teman-teman kami yang kami temui di puncak Gunung Ungaran. Disini kami disuguhi makanan yang cukup untuk mengganjal perut untuk energi menuruni gunung.

Narsis dulu di parkiran Medini.,hahaha
Narsis dulu di parkiran Medini.,hahaha
Untuk info contact, PM saja di FB (Zhi CiinounaDudulz Ghadyeztmandjha) atau Twitter (@fanta_fairy) q, termasuk nomor kontak beberapa pemandu jika ingin menggunakan jasa guide yang bisa mengantar mencapai puncak Gunung Ungaran.

Selamat Mendaki. Salam lestari.


Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Jangan lupa kasih koment ya kawan :D